Mengelola Emosi, Menjaga Kinerja
Pengelolaan emosi adalah unsur penting dalam memelihara kesehatan fisik dan mental karyawan. Emosi negatif bisa mengganggu kinerja, bahkan mempengaruhi hubungan dengan rekan kerja dan atasan.
Pengalaman yang sarat emosi bisa menimpa siapa saja. Salesman Aldi Syarkawi dan Helper Ramdanur Akhiar, dari SC Pekanbaru, CCBI Sumatra bagian Tengah, pernah terpaksa menginap di daerah transmigrasi, tanpa makan apapun, dan hanya minum Coca-Cola! Itu terjadi gara-gara mobilnya mogok di wilayah terpencil dan tak bisa diatasi. Segala emosi pun bercampur aduk di benak mereka: marah, jengkel, stres, cemas, takut dan panik.
Ketika menghadapi pengalaman emosional itu, Aldi mengatasinya dengan berpikir jernih ke depan, sabar dan berdoa. “Kita harus berpikir jernih, apakah emosi akan bisa bisa menyelesaikan masalah atau tidak. Karena semakin kita bisa mengendalikan jiwa, maka mengendalikan yang lain akan lebih gampang,” sambungnya.
Toh berbagai situasi dan kondisi, yang berpotensi memancing munculnya emosi-emosi negatif, akan terus muncul. Aldi mengakui, masih ada situasi yang dapat memancing emosinya. Yakni, jika terjadi putusnya kiriman produk, sementara ia sebagai Salesman dikejar target. Apalagi, lokasi outlet jauh di luar kota, di daerah transmigrasi yang terpencil, dan harus ditempuh lewat perkebunan sawit yang sepi.
Lain lagi dengan Rina Helianti, analis strategis pajak perusahaan CCBI. “Saya biasanya stres, cemas dan panik jika disuruh mengerjakan sesuatu yang belum pernah saya kerjakan. Juga, kalau ada peraturan pajak yang baru, yang punya dampak ke perusahaan, tetapi saya terlambat tahu. Soalnya, salah menerapkan aturan pajak atau terlambat menerapkannya, bisa berdampak cukup signifikan,” ujar Rina.
Mulas dan sakit perut
Kalau sedang stres atau panik, Rina makin merasa tak siap menghadapi hasil kerja, yang mungkin tidak sesuai dengan harapannya. “Terus kadang-kadang saya jadi mulas, sakit perut…” lanjutnya. Merasa tertekan, Rina pernah sebulan atau dua bulan menghabiskan begitu banyak waktu –termasuk di rumah—untuk mengurusi pekerjaan kantor. Akibatnya, suami, anak, dan orangtua, tak mendapat perhatian.
Membawa emosi akibat urusan kantor ke rumah, memang berisiko dan sedapat mungkin harus dihindari. Aldi menjelaskan, di tempat kerja, kita diikat oleh suatu lingkaran organisasi dan harus menjadi satu. Sedangkan di keluarga, kita juga mempunyai komunitas sendiri, yang berbeda dengan lingkungan kerja.
Riza Ibrahim, Treasury and Risk Manager, National Office CCBI, bersikap lebih tegas. “Tak ada gunanya membawa permasalahan kantor ke rumah, kecuali jika memang dengan melakukan kegiatan di rumah dapat memberi kontribusi pada pemecahan problem. Jika tidak, lebih baik meninggalkan permasalahannya di kantor sampai hari kerja berikutnya!” katanya.
Dampak negatif lain dari situasi emosional tertentu adalah menuntut sebentuk “pelarian.” Riza pernah mengalami hal itu sampai setahun yang lalu. “Dulu, dalam menghadapi emosi jiwa, biasanya teman setia saya adalah rokok. Tetapi sudah hampir setahun ini saya berhenti, dan ternyata hasilnya malah terasa positif. Yaitu, pikiran kita –percaya atau tidak—akhirnya menjadi lebih jernih tanpa rokok,” tutur Riza.
Emosi negatif tak pelak lagi dapat mempengaruhi kinerja, bahkan bisa membahayakan jiwa orang lain. Ini setidaknya berlaku bagi Aldi, yang sebagai Salesman harus sering pergi ke luar kota, puluhan kilometer mengendarai mobil. “Akibatnya sangat fatal terhadap diri sendiri dan orang lain, jika kita tidak berkonsentrasi ketika mengemudikan kendaraan. Jika terbawa ke gerai (outlet), bisa-bisa pelanggan juga pindah haluan!” katanya.
Kinerja di kantor juga dapat terganggu oleh emosi negatif, terutama pada awal masa kerja. “Pekerjaan jadi tidak terfokus. Bingung, mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Pikiran jadi terpecah-pecah…,” kata Rina.
Hal itu dibenarkan Riza. “Bahkan kadang-kadang emosi negatif juga mempengaruhi hubungan dengan rekan serta atasan. Namun, dengan berjalannya waktu, kita semakin terproses dan bijaksana, sehingga saat ini pengaruhnya sudah minimal,” lanjutnya.
Kiat mengelola emosi
Menurut para pakar, ada beberapa cara untuk membantu meningkatkan kesehatan emosi. Pertama, kenali emosi dan cobalah untuk mengerti apa penyebabnya. Hal ini akan membuat orang terbiasa menangani potensi masalah emosi dari akarnya, sebelum berkembang menjadi benang kusut di kepala. Carilah waktu untuk tenang, dan renungkan apa saja yang telah dilalui belakangan ini.
Kedua, kendalikan emosi secara tepat. Daya nalar berperan dalam mengendalikan emosi. Orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik dapat mengendalikan pikiran, perasaan dan tindakan mereka. Biasakan berpikir sebelum bertindak. Pertimbangkan dahulu konsekuensi positif dan negatifnya. Fokuslah pada hal-hal yang positif, dan usahakan makin mendekatkan diri pada Tuhan.
Ketiga, jadikan permaafan sebagai gaya hidup. Memberi maaf akan melepaskan orang yang dikecewakan dari kemarahan, dendam, dan stres berkepanjangan, yang berhubungan dengan masalah-masalah fisiologis. Seperti: penyakit tekanan darah tinggi, kanker, dan sebagainya. Sikap tak mau memaafkan, dan mempertahankan kebencian, tidaklah menghukum orang yang menyakiti kita. Sebaliknya, itu sama seperti kita meminum racun, dan berharap orang lain yang mati!
Keempat, kembangkan kejujuran emosi. Kejujuran emosi tidak hanya menerima perasaan-perasaan kita apa adanya, tapi juga menerima diri apa adanya. Artinya, kita juga melepas semua topeng, dan melihat serta mencari jatidiri kita yang sesungguhnya. Jati diri ini tidak ditentukan oleh apa kata orang tentang kita, namun terkait dengan kata hati nurani kita tentang diri kita secara fisik, mental dan spiritual.
Kelima, miliki kejernihan dan ketenangan hati. Meditasi diyakini dapat menetralkan kegelisahan, ketakutan, serta menenangkan emosi. Meditasi yang dimaksud di sini bukanlah “mengosongkan pikiran.” Namun, mengkonsentrasikan seluruh fungsi jiwa –kehendak, emosi, memori, pikiran dan imajinasi—untuk merenungkan kebenaran-kebenaran hakiki. Meditasi ini membawa kejernihan hati dan berdampak pada perilaku emosi yang positif.
Acara rekreasi bersama
Manajemen perusahaan juga bisa berperan dalam menjaga kesehatan emosional para karyawannya. Aldi dan Riza menyebutkan, silaturahmi antara keluarga karyawan dan perusahaan, serta acara rekreasi bersama, bisa mengurangi kepenatan kerja dan memberi kesegaran emosi baru bagi para karyawan. “Acara hiburan sangat diperlukan, agar karyawan tidak monoton dalam berpikir,” ucap Aldi, yang tiap hari biasa masuk kerja pukul 7.30 pagi dan pulang pukul 20.30 malam.
Bagi Riza, kegiatan informal oleh perusahaan, yang melibatkan keluarga karyawan, itu sebaiknya dilakukan secara rutin. Lingkupnya pun tidak harus besar. “Lingkup yang lebih kecil, per bagian atau departemen, juga dapat menggalang hubungan informal,” jelasnya.
Sedangkan menurut Rina, peran atasan juga besar sekali, dalam membantu karyawan menghilangkan emosi negatif. “Mereka suka bertanya, bagaimana keadaan anak saya, misalnya. Ada juga yang membesarkan hati dengan memberikan contoh. Satu atau dua kata perhatian dari atasan itu besar lho artinya,” sambungnya.
Selain itu, peran tim kerja tak bisa ditinggalkan. “Yang sangat diperlukan adalah kerjasama dan team work yang solid, sehingga dalam tim akan tumbuh sinergi yang baik. Atasan selalu mem-brief bawahan sehinga terjadi komunikasi dua arah,” kata Aldi.
Namun, pada akhirnya, hubungan pribadi dengan orang lain punya peran signifikan, dalam pengelolaan emosi. “Sekarang ini, cara saya meredam emosi jiwa adalah dengan memiliki rekan kantor untuk berbagi. Walau yang diajak berbagi belum tentu dapat menawarkan solusi, paling tidak dengan berbagi, segala akumulasi emosi dapat disalurkan sehingga berkurang,” ucap Riza.
Untuk membantu bawahan atau rekan kerja yang sedang menghadapi problem emosional, Aldi punya resep tersendiri. Ia akan memberikan masukan, yang juga merupakan semboyan hidupnya.
“Berpikir positiflah selalu, karena apapun yang kita terima semuanya tergantung pada penerimaan diri kita sendiri. Selalu ambil hikmahnya dari semua itu, dan serahkan sisanya kepada Yang Maha Kuasa. Selalu berbuat yang terbaik dan diiringi dengan doa. Insya Allah, kita akan tenang dan terlepas dari emosi yang negatif,” tegasnya. ***
Agustus 2004


0 Comments:
Post a Comment
<< Home